Kota yang pernah di tinggali

Day 14


Kota tempat dimana saja saya pernah tinggal ini sebetulnya adalah tema pengganti dari yang telah di tentukan oleh tim Blogger Perempuan.
Tema yang seharusnya diangkat yaitu korelasi antara Zodiac dan Kepribadian, tapi karena satu dan lain hal, maka saya ambil salah satu dari tiga tema opsional yang sudah disiapkan.


Bandung

Saya besar dan lahir di Bandung, tapi jika ditanya mengenai silsilah keluarga, Bapak dan ibu saya keduanya sama-sama berasal dari Kulon Progo, Jogja (Yogyakarta). 
Dulu ketika zaman Orde Baru masih berkuasa, menurut Bapak (saya) Jogja merupakan kota yang minim perindustrian, apalagi Kulon Progo, yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani atau nelayan karena letaknya yang berbatasan langsung dengan pesisir pantai.
Karena hal itu-lah Bapak memutuskan untuk merantau ke Bandung, kota metropolitan terbesar ke tiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. 

Secara geografis Bandung di kelilingi oleh pegunungan, yang bentuk morfologi wilayahnya seperti cawan raksasa. Oleh sebab itu Bandung memiliki banyak destinasi alam epic yang berada di kawasan dataran tingginya.
Keadaan geologi dan tanah-nya yang subur juga membuat kota ini makmur di tumbuhi pepohonan dan bunga-bunga (sehingga dulu Bandung mendapat predikat sebagai Kota Kembang) yang membuat udara-nya sejuk dan lembab. 

Meski sekarang Bandung berubah menjadi kota dengan kepadatan tertinggi di Jawa Barat karena tingginya angka urbanisasi (Perpindahan dari desa ke kota), Bandung tetap menjadi kota yang nyaman untuk di tinggali, saking nyaman-nya kini Bapak sudah melahirkan generasi ketiga-nya di kota Bandung. 😅
Dan mungkin kini kami malah akan menua dan mendaulatkan diri sebagai wargi Bandung meski bukan berasal dari etnis Sunda seperti mayoritas penduduk-nya.



Kulon Progo, Jogjakarta

Meski besar dan lahir di Bandung, saya tidak pernah melupakan asal usul kota dimana Bapak dan ibu saya berasal. 
(Bagaimana bisa lupa jika komunikasi kami sehari-hari nya saja menggunakan bahasa jawa.) (Bagaimana bisa lupa jika minimal dua tahun sekali kami pulang kampung) 😅

Dimasa antara saya lahir dan kemudian tumbuh besar, ada satu masa saya pernah tinggal di Kulon Progo Jogja bersama ibuk dalam kurun waktu satu tahun. Ketika belum genap memasuki angka ke enam usia saya waktu itu.
Lawas tenan og. Hahaha

Didalam keterbatasan dalam mengingat moment-moment masa kecil saya sewaktu tinggal di Jogja.
Ada beberapa hal yang tak luput dalam ingatan, seperti naik andong setiap sore menuju pasar (yang dulu menjadi alat transportasi utama) untuk membeli rebusan telur puyuh yang di tusuk menyerupai sate, juga camcao (cincau) dengan air kuahnya yang berwarna merah muda.
Atau berbagi biji kakao matang bersama kakak sepupu, yang pohonnya tumbuh di pelataran rumah simbah.
Receh sih, tapi itu yang membuat Jogja teramat istimewa bagi saya, selain tentunya karena unggah-ungguh basa Jawa dan magis nya yang membuat saya selalu rindu dan bahkan ingin menetap. Cieee, mendadak melow




Komentar